Rabu, 16 November 2022

RASA Terasa namun tak nyata

 Perasaan yang terasa tak nyaman, nafas berat yang mengiringi setiap hembusannya, dan hati yang terasa sesak, terkadang ingin rasanya aku menghilangkan perasaan itu, mengantikan perasaan itu dengan rasa yang lain.

terkadang aku ingin merasakan sayatan pisau di pergelangan tanganku dan leherku merasakan sensai dinginnya pisau saat menyentuh kulitku, merasakan gesekan pisau yang digerakkan secara perlahan, melihat bagaimana darah mengalir, berharap rasa sakit & sesak yang ada di hati tergantikan dengan sesuatu yang nyata sakitnya yang dapat aku obati lukanya.

gelas yang aku gengam saat aku menghilangkan dahaga, ingin aku lempar agar membentur lantai ataupun dinding yang mampu memecahkan keheningan yang aku rasakan

sebuah pulpen yang ada di gengaman tangan

Share:

Sabtu, 05 November 2022

Jumat, 04 November 2022

Psycho Clown Terror

 Ribuan buku yang tersusun di rak-rak buku yang berjajar rapi membentuk lorong labirin, sinar matahari yang menerobos jendela masih terasa remang-remang di dalam ruangan ini, aku berjalan dengan tanganku yang meraba setiap buku yang ada di rak ini dan satu tangan lainnya membawa lilin untuk penerangan tambahan. aku mencoba mencari judul buku cerita menarik untuk aku baca, deretan buku tebal dan  tipis,  yang berdebu hingga yang masih berbau tinta, tak pernah sekalipun merasa bosan, banyak hal yang aku pelajari dari setiap buku yang kubaca, tak hanya tentang ilmu pengetahuan namun juga tentang perasaan sedih, senang, takut, perasaan dicintai dan masih banyak lagi. 

“Pranggg...!.” Suara benda keras yang menghantam salah satu kaca jendela, menghilangkan fokusku dari judul-judul buku itu dan membuat jantungku seakan berhenti berdetak bersamaan dengan tarikan nafas yang terasa kasar dan singkat .

Aku berjalan dengan langkah ragu namun juga cepat mencari sumber suara  itu, beberapa pecahan kaca yang sudah mulai terlihat berceceran di sana sini, detak jantungku terasa semakin cepat membuat telapak tanganku terasa dingin namun tubuhku berkeringat hebat,aku mengambil langkah ragu, berjalan pelan dengan kaki berjinjit menghindari pecahan kaca yang semakin banyak seiring dengan semakin dekatnya aku dengan jendela yang sudah berlubang dengan sisa kaca runcing yang masih menempel di setiap sisi bingkai jendela itu. Mataku tertuju pada benda berbentuk persegi panjang yang dibungkus dengan kertas putih namun terdapat bercak merah yang terlihat samar.

Aku memungut benda itu, lalu berjalan kembali ke arah jendela yang sudah tak utuh lagi mencari sosok kurang ajar yang tak tau diri itu. Dari tempatku melangkah saat ini, aku melihat pohon kamboja yang berguncang dengan keras membuat bunga putih kekuningan itu berguguran jatuh ke tanah. Itu dia sosok laki-laki yang bertubuh gempal dengan wajah yang seputih cat tembok, sekitar matanya yang diberi warna hitam arang dan bibir yang dilukis mengikuti garis pipi seperti bulan sabit dengan warna merah darah, dia memakai baju badut bermotif polkadot khas dengan renda yang ditumpuk tebal di lingkar lehernya, dia berdiri di bawah pohon kamboja dengan membawa balon merah di tangan kirinya dan mengguncang-guncangkan pohon itu, seolah dia sengaja memperlihatkan keberadaannya. Aku mengamatinya, hal bodoh yang dia lakukan.

“HEY...!, siapa kau?, apa kau gila, apa yang kau lakukan pada perpustakaanku ?” teriakku lantang padanya dan mencoba menjaga jarak darinya. Dia menatapku membuat mata kami saling bertemu, dengan sringaian senyumannya sambil menunjuk benda persegi panjang yang baru ku pungut, dengan tangan yang bergetar aku mulai membuka benda itu secara perlahan bau amis tipis mulai tercium, benda yang terbungkus kertas lusuh dengan bercak merah kini mulai terlihat jelas, sebuah batu bata benda keras dan berbentuk persegi, pantas saja mampu memecahkan kaca jendelaku pikirku dalam hati, tapi fokusku tidak hanya pada benda itu tapi kertas ini, bau anyir yang semakin menyengat dan warna merah yang semakin jelas membentuk sebuah tulisan.

“GAME PLAY!.” Aku menatap sosok itu dengan penuh tanda tanya, dia tersenyum kembali padaku kali ini memperlihatkan gigi pancingnya yang terlihat semakin mengerikan, dan tangan kanannya yang terlihat sudah menggenggam sebuah pisau yang terlihat tajam perlahan dia mengarahkan pisau itu pada balon yang sedari tadi  dia pegang.

“DARRR...!” balon itu pecah diiringi dengan suara tawa yang melengking dan mengerikan, mataku terbelalak, tubuhku bergetar membuat kaki terasa lemas seperti mati rasa, nafas yang tercekat karena merasakan atmosfer yang terasa aneh dan semakin mengerikan ini, membuat jantung berdetak tak berarturan, perlahan keringat dingin mulai menyelimuti, sejenak aku kehilangan keseimbagan, dengan lutut dan tangan yang menyentuh lantai diantara serpihan kaca, rasa perih yang menjalar dari telapak tanganku membuatku tersadar dengan situasi ini, aku mencoba bangkit berdiri dan menatap sosok itu memastikan aku masih berada di jarak yang aman darinya, namun dia semakin mendekat, perlahan tapi pasti berjalan melewati jendela tanpa kaca, benda tajam yang digengamnya yang terlihat mengkilap terkena pantulan cahaya matahari yang kini bebas masuk melalui jendela yang tak utuh lagi.

Aku berlari membuat jarak sejauh mungkin yang aku bisa, dia mengejarku masih dengan suara tawa yang bergema memenuhi ruangan, aku berlari sambil sesekali menengok kebelakang memastikan jarakku dengannya, sambil menutup telingaku dengan tanganku yang sudah berlumuran darah mencoba meredam suaranya, aku menjatuhkan buku berhargaku, sebanyak mungkin di setiap lorong yang aku lewati, berharap bisa memperlambat langkahnya dan memberikan jarak yang semakin jauh dengannya, namun percuma, dia semakin senang melihatku yang lari ketakutan, dia merasa terhibur dengan usaha yang aku lakukan.

Aku terus berlari dan sesekali menengok ke belakang memastikan keberadaan sosoknya, namun hilang sosok itu tiba-tiba tidak terlihat, nafas lega mulai memenuhi rongga dadaku, namun aku belum aman darinya aku terus berjalan dengan langkah yang terburu-buru dan sesekali melihat sekitarku, dengan kaki yang bergetar, keringat dingin yang semakin mengucur deras dan degup  jantungku yang semakin cepat, aku mencari pintu keluar atau tempat persembunyian yang menurutku aman bagiku saat ini, hingga aku sudah sampai ujung lorong rak-rak buku paling akhir menuju pintu keluar.

Lalu, “BRAKKKK...!,” benda keras menghantam wajahku membuatku terhuyung ke belakang dan terjatuh. Hal terakhir yang aku lihat adalah wajah badut itu sebelum akhirnya pandanganku perlahan  mengelap. 

Gesekan pisau yang diasah dengan kasar terdengar risih di telinga membuatku tersadar dari ketidak sadaranku, aku membuka mataku perlahan dengan pandangan yang terasa berkunang-kunang dan serta kepalaku yang terasa berdenyut dengan perih. Aku mengamati sekitar cahaya remang-remang yang menerangi tempat ini, dan


Tangannya yang besar mencengkram pundakku dengan kuat, aku mencoba melepaskan cengkramannya namun cengkraman itu semakin kuat, membuatku semakin merunduk dan membuatku berdiri berlutut. Dia mengangkat pisaunya tinggi-tinggi dan siap menggunakannya kearahku. Dia masih tersenyum, senyum penuh kepuasan. Aku memejamkan mata menundukkan kepalaku, air mata yang terasa panas mengalir melewati pipiku, dengan tubuh yang masih bergetar dan menggigil ketakutan, lalu gelap.


Share: